Friday, December 26, 2008

Bayar pajak kendaraan

Ini sekedar cerita pengalaman aku waktu urus perpanjangan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan bayar Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) pada Senin, 22 Desember 2008 lalu. Selama pengurusan, aku ditemani ibuku (...selamat hari ibu, Mom...).

Biasanya buat bayar PKB, aku titip teman ibuku yang kerja di Samsat Nganjuk. Enak dan mudah, tidak perlu mengerutkan kening dan ngotot mempertahankan posisi setiap kali ngantri di loket, he, he, he... Cukup menyerahkan asli & fotokopi (masing - masing satu lembar) Bukti Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), STNK dan KTP. Minggu berikutnya, tinggal ambil bukti PKBnya di rumah teman ibuku itu. Jadi deh.... Kali ini, berhubung plat nomor sudah umur lima tahun, nggak bisa nitip. Kendaraan musti dibawa untuk cek fisik. Cek fisik itu berarti ada seorang petugas samsat yang akan menggesek nomor rangka dan nomor mesin kendaraan di selembar kertas dengan menggunakan pensil, untuk dicocokkan dengan dokumen kepemilikan kendaraan.

Petualangan hari itu dimulai jam 8.30 pagi. Berangkat dari rumah ortu, mampir fotokopi, ambil duit di ATM, dan beli beberapa pernik alat sepeda angin.
Jam 9.00 sampai kantor samsat, ngantri, lebih tepatnya sih, ikut berjubel...., beli map merah (kualitas biasa, harga lima ribu, untuk dua buah map). Kemudian ngantri cek fisik. Di sinilah petualangan benar - benar dimulai. Tanpa nomor antrian, aku musti nunggu petugas cek fisik datang. Setelah ditunggu-tunggu, sampai sepuluh menit belum ada juga petugas yang datang. Padahal aku lihat, ada dua petugas cek fisik yang duduk - duduk santai di tenda. Waktu aku datangi, mereka bilang aku nunggu saja, nanti petugasnya datang. Rupanya dua orang petugas cek fisik ini tutup mata dengan situasi yang terjadi. Meskipun tidak ada kendaraan roda dua yang datang ataupun mengantri cek fisik, sementara temannya yang bertugas cek fisik kendaraan roda empat kewalahan, mereka lebih memilih untuk duduk - duduk mengobrol di tenda. Tidak ada inisiatif untuk membantu.
Kemudian aku tanya ke petugas loket, ciri-ciri atau seragam petugas cek fisik kendaraan roda empat. Jawabnya sama saja, tunggu saja. Weh, darah agak sedikit naik, nih... Akhirnya, aku tanya - tanya deh ke sesama pengantri. Seorang sopir truk memberi info dimana kemungkinan sang petugas berada.
Benar juga ketemu, akhirnya. Sang petugas tengah sibuk cek fisik dengan seorang laki - laki yang membawa kurang lebih empat buah map dokumen. Weh..., langsung deh sedikit naik darah lagi, berhubung aku ketemu langsung dengan oknum yang bikin rusak antrian cek fisik.... Dengan pura - pura gak tahu dia siapa, dengan sabar aku tungguin sang petugas fisik. Selesai satu mobil, langsung deh aku, dengan nada setengah memaksa, minta sang petugas menuju kendaraan aku. Sang petugas ini masih muter - muter, tapi aku gak peduli. Aku kuntit terus. Kemana pun sang petugas pergi, beberapa orang aku lihat mengikutinya dengan aneka permintaan pengurusan. Dan aku dengan setia terus mengulang - ulang bahwa aku menunggu giliran berikutnya... Ha, ha, ha... Finally, kesabaranku , atau kecerewetanku (?), berbuah. Cek fisik pun dilakukan. Thanks to my Dad, yang seharian kemarin ribut mencari dan membersihkan bagian depan mesin, sehingga aku tahu dan bisa nunjukkin ke petugas cek fisik dimana saja nomor rangka dan nomor mesin kendaraanku. Nggak sampai lima menit, cek fisik selesai.

Dari loket cek fisik, lanjut ke loket pengambilan formulir pendaftaran. Nggak terlalu ngantri. Hanya saja waktu mengisi formulir itu yang perlu konsentrasi tinggi. Infonya sih sebagian ada di BPKB dan STNK. Isian formulir dan kelengkapan dicek oleh seorang petugas yang sabar dan ramah, sebelum akhirnya harus ditumpuk di loket yang, ya ampuuuuuunnn, sangat tidak teratur antriannya. Lebih tepatnya sih, tidak ada antrian. Untung saja loket ini ada di ruangan tertutup ber-ac, sekaligus aku sudah pengalaman ngantri waktu Juli lalu urus perpanjangan SIM. Jadi dengan tekad akan menghadapi semuanya dengan kesabaran, aku menunggu giliran dengan tabah.

Sambil menunggu, aku chatting dengan Dini, eks yunior HWR yang sekarang kerja di Jakarta, klien, Dian, teman kuliah yang sekarang stay di Jember, serta my bro. Thanks to IM3 yang pulsa layanan gprsnya murah bangetttssss... He, he, he... Aku juga sempat mencatat standar kerja kantor layanan publik ini. Nih dia isinya aku salin :
Standar mutu pelayanan Kantor Bersama Samsat Nganjuk :
1. Pengesahan STNK 1 tahun : 15 menit,
2. Cetak STNK pengesahan 5 tahun : 90 menit,
3. Ganti pemilik wilayah Nganjuk : 90 menit,
4. Ganti pemilik dari luar Nganjuk : 90 menit,
5. Ganti pemilik dari luar propinsi : 90 menit,
6. STNK baru Bea Balik Nama (BBN) Kendaraan Bermotor (KB) baru : 90 menit,
7. Mutasi keluar Kab. Nganjuk : 1 minggu,
8. Penyelesaian BPKB mutasi masuk : 2 minggu,
9. Penyelesaian BPKB baru : 1 bulan,
10. Penyelesaian Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) : 2 hari

Kenyataan yang terjadi :
Aku mulai ngantri di loket jam 9.45, bayar dan finally terima dokumen PKB dan STNK jam 11.45. Dihitung dari mulai daftar di pos cek fisik jam 9.00, berarti keseluruhan waktu yang dibutuhkan untuk proses STNK lima tahunan adalah 2 jam 45 menit. Plat nomor baru juga bisa aku dapat pada hari yang sama. Tidak perlu dua hari seperti yang tercantum di standar. Jam 12.30, semuanya selesai.

Bagi aku, meskipun molor dari standar, pelayanan Samsat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan pelayanan Polres Nganjuk waktu aku urus perpanjangan SIM. Semua urusan selesai pada hari yang sama dan ada hasilnya secara fisik. Dulu waktu aku memperpanjang SIM, aku musti bolak-balik. 16 Juni 2008 urus dokumen dan tes kesehatan. 3 Juli foto. Ambil SIM awal Agustus. Semuanya dengan kondisi kekacauan antrian yang relatif sama.
Berita hebringnya lagi, bayar PKB nantinya bisa aku lakukan dimanapun di wilayah Jawa Timur, asal aku bisa tunjukin asli BPKB, STNK dan KTP.

Mungkin ada beberapa di antara pembaca blog aku ini berpendapat, 'ngapain juga repot - repot ngurus sendiri? pake calo atau nitip kan lebih mudah...' Memang sih pastinya lebih mudah dan nyaman. Tapi kalo nggak pernah ngalamin sendiri, kan nggak bisa tahu bagaimana kondisi layanan publik yang dimiliki instansi pemerintah kita. Dan dari pengalaman aku, kesimpulan menurut aku pribadi, sesungguhnya jika terjadi uang sogok atau kita anggap ada pungli, sumbernya ada pada diri kita sendiri. Kita membeli waktu dan kesabaran kita, sukarela, dengan uang yang kita berikan kepada petugas administrasi layanan publik supaya nggak perlu ngantri lama dan mengambil giliran orang lain. Contoh lainnya, kasih uang petugas darat maskapai penerbangan supaya mengatur urutan waiting list kita nomor teratas, menggeser calon penumpang lain yang sudah daftar duluan. Jadi...????

Jika di kemudian hari aku tergeser nomor antrian orang lain, aku anggap itu penebusan dosa karena beberapa keistimewaan yang pernah aku terima dalam mengantri.
Attachment includes the note and its objects

No comments:

Post a Comment